Rabu, 25 Juli 2012

ANALISIS FINANSIAL AGROINDUSTRI GULA AREN ( Studi Kasus Di Desa Kertagennah Kecamatan Kadur Kabupaten Pamekasan Madura )


I.                   Pendahuluan

1.1. Latar Belakang
Pengembangan pertanian harus dilakukan melalui pendekatan agribisnis secara keseluruhan. Agribisnis yang didalamnya terdapat subsistem usaha yang saling terkait, saling tergantung dan saling berpengaruh mulai dari subsistem hulu, usahatani, subsistem hilir dan jasa penunjang. Semua subsistem tersebut harus dikembangkan secara bersama dan seimbang untuk menghasilkan berbagai produk pertanian yang memiliki nilai tambah dan daya saing yang tinggi, baik dipasar domestik maupun pasar internasional. Agroindustri merupakan salah satu subsistem agribisnis yang strategis, dimana dari pengembangannya diharapkan terjadi peningkatan nilai tambah hasil pertanian melalui pemanfaatan, pengembangan dan penguasaan teknologi pengolahan. Agroindustri dapat dijadikan sebagai langkah awal untuk meningkatkan pendapatan dan peningkatan kapasitas produksi berbagai pengolahan hasil pertanian.
Pohon aren atau enau (arenga pinnata) merupakan pohon yang banyak menghasilkan bahan-bahan industri yang sudah lama dikenal. Hampir semua bagian atau produk dari tanaman ini dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomi. Salah satu produk pengolahan yang berasal dari pohon aren yaitu air nira yang diolah menjadi gula aren (gula merah).
Desa Kertagennah merupakan salah satu daerah di Kabupaten Pamekasan yang memiliki potensi dalam pengembangan usaha gula aren. Kapasitas produksi gula aren yang dihasilkan untuk nira aren sebanyak 40-45 liter mampu menghasilkan 5 Kg. Desa Kertagennah merupakan salah satu desa di Kecamatan Kadur yang sebagian penduduknya bermata pencaharian tetap sebagai pengusaha gula aren yang bersifat home industri. Dalam memproduksi gula aren di Desa Kertagennah, pengusaha masih menggunakan teknologi yang sederhana. Produksi gula aren yang dihasilkan dengan mempergunakan sumberdaya yang dimiliki oleh pengusaha untuk memperoleh keuntungan.
1.2. Rumusan Masalah
1.                  Apakah usaha agroindustri gula aren menguntungkan ?
2.                  Apakah usaha agroindustri gula aren layak untuk dilakukan ?

1.3. Tujuan
1.                  Untuk mengetahui apakah agroindustri gula aren menguntungkan.
2.                  Untuk mengetahui apakah agroindustri gula aren layak untuk dilakukan.

II.            Tinjauan Pustaka
Tanaman aren adalah tanaman perkebunan yang sangat mudah beradaptasi baik pada  berbagai agroklimat, mulai dari dataran rendah  sehingga 1400 m di atas permukaan laut (Effendi,  2009; Ditjen Perkebunan, 2004). Pengusahaan tanaman aren sebagian besar diusahakan oleh  petani dan belum diusahakan dalam skala besar,  karena pengelolaan tanaman belum menerapkan  teknik budidaya yang baik menyebabkan  produktivitas pertanaman rendah.
Saat ini  produk utama tanaman aren adalah nira hasil  penyadapan dari bunga jantan yang dijadikan  gula aren maupun minuman ringan, cuka dan  alkohol (Akuba, 2004; Rindengan dan  Manaroinsong, 2009). Selain itu tanaman aren  dapat menghasilkan produk makanan seperti :  kolang kaling dari buah betina yang sudah masak  dan tepung aren untuk bahan makanan dalam  bentuk kue, roti dan biskuit yang berasal dari  pengolahan bagian empelur batang tanaman (Alam dan Baco, 2004. Maliangkay et al., 2004).
Tanaman ini  memberikan produksi nira yang layak  diusahakan dengan input rendah dan sangat  cocok untuk tujuan konservasi air dan tanah. Di  samping itu, tanaman aren menghasilkan biomas  di atas tanah dan dalam tanah yang sangat besar  sehingga berperan penting dalam siklus CO2 (Syakir dan Effendi, 2010).
Gula merah atau biasa disebut dengan gula jawa merupakan kebutuhan pokok manusia (terbuat dari nira tanaman aren) yang selalu mengalami perubahan yang cenderung meningkat. Peningkatan tersebut terjadi seiring meningkatnya pendapatan penduduk, jumlah penduduk serta semakin banyak industri pangan yang menggunakan gula merah sebagai bahan bakunya.
2.1.  Landasan Teori
Agroindustri merupakan salah satu subsistem agribisnis yang strategis, dimana dari pengembangannya diharapkan terjadi peningkatan nilai tambah hasil pertanian melalui pemanfaatan, pengembangan dan penguasaan teknologi pengolahan. Agroindustri dapat dipandang sebagai langkah awal menuju  industrialisasi dengan tujuan untuk meningkatkan pendapatan dan peningkatan kapasitas produksi berbagai pengolahan hasil pertanian.
            Produksi merupakan suatu kegiatan atau proses yang mengubah faktor-faktor produksi menjadi produk. Tingkat produksi suatu tanaman ditentukan oleh tingkat penggunaan faktor-faktor produksi yang terdiri dari sumber daya alam, tenaga kerja, modal dan pengelolaan. Faktor-faktor sumber daya alam biasanya tanah sedangkan modal adalah semua milik usahatani yang mempunyai nilai uang yang digunakan untuk melaksanakan usaha (Hadisapoetra, 1973).
            Persoalan yang sering dihadapi dalam ekonomi pertanian adalah persolaan pembiayaan. Dengan kata lain, petani tidak dapat meingkatkan produksinya karena kurang biaya (Mubyarto, 1989).
            Analisis finansial lebih menekankan pada aspek ‘input output’ pada penerimaan dan pengeluaran yang sebenarnya. Dengan demikian pada pada analisis ini, variabel yang digunakan adalah data harga real. Analisis finansial penting untuk mengetahui posisi proyek atau usaha pada tahun-tahun tertentu, apakah usaha dalam keadaan defisit atau dalam keadaan yang menguntungkan (Gray, 2002).
2.2.  Penelitian Terdahulu
Heriyanto Manalu, 2007 dalam penelitian tentang “Analisis Finansial Usahatani Wortel” menjelaskan bahwa usahatani wortel menguntungkan dengan rata-rata pendapatan petani per musim tanam per petani dan per Ha adalah 1,493,036.46 Rp/petani dan Rp 3,456,262.38/Ha. Serta usahatani wortel layak untuk diusahakan dan dikembangkan diliat dari nilai B/C 1.60>1, nilai IRR 62.50%>1, dan nilai NPV 3,252,952.93>0.
2.3.  Kerangka Pemikiran
            Petani dalam mengusahakan usahanya menggunakan beberapa faktor produksi seperti lahan, peralatan, dan tenaga kerja karena pengembalian biaya akan bergantung dari keberhasilan usaha yang dikelola. Karakteristik dari petani juga mempengaruhi dalam usaha seperti umur, pendidikan, dan jumlah tanggungan.
Keuntungan petani dapat diketahui dengan analisa finansial (TC, TR, π, BEP). Dari analisis keuntungan disini diliat R/C ratio sehingga terlihat hasilnya apakah usaha ini layak atau tidak layak untuk diusahakan.
Hipotesis :
1.         Agroindustri gula aren di Desa Kertagennah Kecamatan Kadur Kabupaten Pamekasan menguntungkan.
2.         Agroindustri gula aren di Desa Kertagennah Kecamatan Kadur Kabupaten Pamekasan layak untuk dilakukan.
III.             Metodologi Penelitian
3.1.  Metode Penentuan Daerah Penelitian
Penentuan daerah penelitian dilakukan secara purposive (sengaja) di Desa Kertagennah Kecamatan Kadur Kabupaten Pamekasan Madura. Karena di daerah penelitian merupakan salah satu Desa sentra produksi gula aren di Pamekasan yang mayoritas masyarakatnya bermata pencaharian tetap sebagai petani gula aren.
3.2. Metode Penentuan Sample
Metode penentuan sample dilakukan secara Simple Random Sampling dengan jumlah responden sebanyak 50 KK.
3.3. Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian adalah data primer. Data primer diperoleh dari pengusaha gula aren melalui wawancara langsung dengan menggunakan kuisioner yang telah disiapkan. Data yang dibutuhkan adalah umur, pendidikan, jumlah tanggungan, harga jual, penerimaan (pendapatan), biaya produksi, jumlah produksi.
3.4. Metode Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis, untuk menghitung keuntungan dan kelayakan usaha gula aren, digunakan rumus sebagai berikut :
1.      Untuk menganalisi biaya produksi, dengan rumus :
TC = TFC + TVC
Dimana :   TC       : Total biaya yang dikeluarkan (Rp)
TFC     : Total biaya tetap (Rp)
TVC    : Total biaya variabel (Rp)
2.      Untuk menganalisis penerimaan, dengan rumus :
TR = Py . Y
Dimana :   TR       : Total Penerimaan (Rp)
Py        : Harga produk (Rp)
Y         : Jumlah produksi (kg)
3.      Untuk menganalisis keuntungan, dengan rumus :
                         Keuntungan = TR – TC
Dimana :   π : Keuntungan (Rp)
                        TR : Total penerimaan (Rp)
                        TC : Total biaya (Rp)
Kriteria pengambilan keputusan :
1.      Jika R/C > 1, maka usaha agroindustri gula aren layak untuk diusahakan.
2.      Jika R/C < 1, maka usaha agroindustri gula aren tidak layak diusahakan.

4.      Untuk menghitung nilai BEP (Break Event Point), dengan rumus :
BEP (unit) = TFC/Py-VC
BEP (Rp)  = TFC/1-TVC/s
Dimana :   TFC     : Total biaya tetap (Rp)
TVC    : Total biaya variabel (Rp)
Py        : Harga produk (Rp/kg)
VC      : Biaya variabel/unit (Rp/kg)
S          : Volume penjualan/total penerimaan (Rp)

1 komentar:

  1. permisi mba saya lovia , saya lagi ada tugas ingin membahas tentang analisis finansial gula aren boleh ga mba saya liat lebih lengkap dari punya mba ini , buat contoh dan mau liat daftar pustakanya biar saya tau apa saja buku2 yang harus saya butuhkan terimaksih ya mba

    BalasHapus