ANALISIS PENGARUH TINGKAT
INFLASI TERHADAP TINGKAT PENGANGGURAN DI INDONESIA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Inflasi
merupakan suatu proses kenaikan harga-harga yang berlaku dalam suatu
perekonomian. Sedangkan tingkat inflasi adalah persentasi kenaikan harga-harga
barang dalam periode waktu tertentu (Sadono Sukirno, 1994). Masalah utama dan mendasar dalam
ketenagakerjaan di Indonesia adalah masalah upah yang rendah dan tingkat
pengangguran yang tinggi. Hal tersebut disebabkan karena, pertambahan tenaga
kerja baru jauh lebih besar dibandingkan dengan pertumbuhan lapangan kerja yang
dapat disediakan setiap tahunnya. Pertumbuhan tenaga kerja yang lebih besar
dibandingkan dengan ketersediaan lapangan kerja menimbulkan pengangguran yang
tinggi.
Pada tahun
1980-an, pengangguran terbuka di Indonesia meningkat dari 1,7 persen pada tahun
1980 menjadi 3,2 persen pada tahun 1990. Tingkat pengangguran di kota lebih
tinggi daripada di desa, yaitu dari 2,8 persen pada tahun 1980 menjadi 6,1
persen pada tahun 1990. Sebaliknya tingkat pengangguran di desa menurun secara
drastis yaitu dari 1,4 persen menjadi 0,1 persen.
Laju
inflasi yang terjadi di Indonesia seringkali berfluktuasi dari tahun ke tahun.
Keadaan ini diakibatkan dari terlalu pekanya perekonomian Indonesia terhadap
pengaruh yang berasal dari luar maupun dalam negeri. Berdasarkan
latar belakang masalah tersebut maka penulis akan mengambil judul “ Analisis
Pengaruh Tingkat Inflasi Terhadap Tingkat Pengangguran di Indonesia ”.
1.2
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah, dapat ditarik beberapa pertanyaan penelitian
diantaranya :
1.2.1
Bagaimana hubungan
antara inflasi dan pengangguran di Indonesia ?
1.2.2
Bagaiman cara menanggulangi
inflasi agar pengangguran di Indonesia berkurang ?
1.3
Tujuan
Penulisan
Tujuan penulisan dari makalah ini adalah :
1.3.1
Untuk mengetahui
hubungan antara inflasi dan pengangguran di Indonesia.
1.3.2
Untuk mengetahui cara
menanggulangi inflasi agar pengangguran di Indonesia berkurang.
BABA II
PEMBAHASAN
2.1
Hubungan antara Inflasi
dan Pengangguran di Indonesia.
Menurut Boediono (1991) inflasi
adalah kecenderungan dari harga-harga untuk naik secara umum dan terus menerus.
Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi,
kecuali kenaikan tersebut meluas kepada atau mengakibatkan kenaikan pada
sebagian besar dari barang-barang lain. Melalui tingkat inflasi kita dapat
mengetahui seberapa besar perubahan yang terjadi dalam perekonomian suatu
negara pada periode waktu tertentu.
Banyak faktor yang dapat menyebabakan terjadinya
inflasi dalam suatu Negara, diantaranya :
a. penawaran
uang (jumlah uang yang beredar)
Ketidakseimbangan
antara permintaan dan penawaran uang akan menyebabkan inflasi. Jika penawaran
uang (jumlah uang yang beredar) terlalu banyak maka inflasi akan meningkat, dan
sebaliknya jika penawaran uang terlalu sedikit terjadi deflasi.
b. Pendapatan
Nasional
GDP
menunjukkan nilai seluruh output atau produk dalam perekonomian suatu Negara. Negara
yang inflasinya tinggi menyebabkan daya beli masyarakatnya menjadi rendah. Daya
beli masyarakat yang rendah menunjukkan pendapatan nasional Negara tersebut
menurun. Dapat disimpulkan bahwa Pendapatan nasional (GDP) berpengaruh terhadap
inflasi yaitu jika GDP naik maka tingkat inflasi juga naik, sebaliknya jika GDP
turun maka tingkat inflasi juga turun.
c. Nilai
Tukar Rupiah
Rupiah
adalah mata uang Indonesia. Nilai tukar rupiah adalah harga satu mata uang
terhadap mata uang lainnya. Nilai tukar mata uang suatu Negara dapat
berfluktuasi, berfluktuasinya nilai tukar mata uang suatu Negara dapat
mempengaruhi nilai mata uang Negara tersebut.
d. Tingkat
Suku Bunga SBI
Kenaikan
tingkat suku bunga SBI yang menyebabkan kenaikan suku bunga Surat Berharga
Pasar Uang (SBPU) dan suku bunga bank umum, menyebabkan konsumen khususnya
investor tidak tertarik untuk meminjam modal dari bank umum. Yang kemudian
menyebabkan bahan-bahan kebutuhan umum banyak yang diimpor sementara jumlah
ekspor lebih kecil. Yang pada akhirnya mengakibatkan inflasi.
Dampak positif dan negatif dari inflasi diantaranya adalah
:
1.
Dampak Positif
Inflasi ringan di bawah 10% akan cenderung meningkatkan aktivitas
ekonomi masyarakat sebab setiap orang maupun pengusaha akan suka membelanjakan
atau menginvestasikan uangnya, akibatnya tingkat bunga akan turun sehingga
orang akan dengan mudah mendapatkan kredit, begitu pula dalam memperluas
aktivitas ekonominya.
2.
Dampak negatif.
a.
kegiatan ekonomi masyarakat
menurun,
b.
tingkat suku bunga meningkat,
c.
terjadi defisit neraca
pembayaran,
d.
banyak terjadi spekulasi,
e.
ketidakpastian usaha produksi
di masa depan,
f.
pembangunan mengalami
kemacetan,
g.
pendapatan riil masyarakat turun,
dan
h.
meningkatnya pengangguran.
Didalam
kurva Phillips dinyatakan bahwa inflasi yang rendah seringkali terjadi dengan
pengangguran yang tinggi, sebaliknya inflasi yang tinggi terjadi dengan
pengangguran yang rendah. Hal ini dapat terlihat dari tabel dibawah ini :
Tabel 2.1
Inflasi dan pengangguran di
Indonesia
|
Tahun
|
Inflasi (%)
|
Pengangguran (%)
|
|
2002
|
10.00
|
9.06
|
|
2003
|
5.10
|
9.50
|
|
2004
|
6.40
|
9.86
|
|
2005
|
17.11
|
10.26
|
Sumber: Badan Pusat Statistik
Dari
tabel 2.1 tingkat inflasi berangsur turun dari tahun 2001 sampai 2003, tetapi
jumlah pengangguran semakin bertambah. Sedangkan pada tahun 2004 sampai 2005
tingkat inflasi mengalami kenaikan yang cukup tajam yang tidak diikuti dengan
penurunan atau pengurangan jumlah pengangguran.
Hal itu disebabkan inflasi yang ditimbulkan oleh pengurangan subsidi BBM
sehingga menaikkan harga-harga pada periode 2005, sehingga melemahkan daya beli
masyarakat.
Daya
beli masyarakat yang lemah juga berakibat pada lemahnya investasi. Lemahnya
investasi ini mengakibatkan penurunan pendapatan dari pengusaha, apalagi
ditambah dengan pajak yang masih tinggi. Akibat yang muncul adalah investasi
sukar untuk berkembang dan kesempatan kerja semakin kecil sehingga pengangguran
akan semakin tinggi.
Pentingnya kebijakan pemerintah dalam
kondisi yang terjadi saat ini untuk mengatasi masalah inflasi agar pengangguran
dapat berkurang.
2.2
Cara
Menanggulangi Inflasi Agar Inflasi Berkurang
Untuk mencegah atau
mengendalikan laju inflasi, jumlah uang yang beredar dimasyarakat atau
kecepatan peredaran (perputaran uang) harus dikendalikan, dan jumlah output
yang diperdagangkan harus ditingkatkan. Dapat dilakukan dengan kebijakan moneter, kebijakan fiskal, dan
kebijakan Non moneter.
1.
Kebijakan Moneter
Kebijakan
moneter adalah seluruh tindakan yang berusaha memengaruhi jumlah uang yang beredar
dan harga uang (tingkat suku bunga) di bidang moneter.
Tujuan
dari kebijakan moneter adalah sebagai berikut.
a.
Stabilitas ekonomi.
b.
Perluasan kesempatan kerja.
c.
Menstabilkan harga-harga.
d.
Perbaikan neraca pembayaran.
Macam-macam
kebijakan moneter, diantaranya:
a.
Politika diskonto
(disconto policy)
Bank Indonesia
mencoba memengaruhi jumlah uang yang beredar dengan cara menaikkan atau
menurunkan suku bunga sehingga orang berhasrat menabung akibatnya uang beredar
berkurang.
b.
Politik pasar terbuka
(open market policy)
Dengan cara
membeli atau menjual surat berharga.
c.
Politik persediaan kas
(cash reserve ratio policy)
Bank Indonesia menaikkan atau menurunkan
prosentase persediaan kas sehingga uang beredar berkurang.
2.
Kebijakan Fiskal
Kebijaksanaan
fiskal sesungguhnya merupakan kebijaksanaan pemerintah untuk mengatur penerimaan
dan pengeluaran negara. Pengendalian laju inflasi melalui kebijakan fiskal
dapat ditempuh melalui langkah-langkah berikut.
a.
Penurunan pengeluaran
pemerintah
Penurunan
pengeluaran pemerintah dimaksudkan sebagai pengurangan pembelanjaan
pemerintah sehingga dapat mengurangi jumlah uang yang beredar
yang terutama dikurangi adalah pengeluaran yang bersifat konsumtif.
b.
Peningkatan tarif pajak
Peningkatan
tarif pajak sebagai upaya menekan laju inflasi adalah berupa peningkatan pajak
penghasilan.
c.
Mengadakan pinjaman
pemerintah atau tabungan paksa
Mengadakan
pinjaman pemerintah atau tabungan paksa adalah tindakan pemerintah menahan
sebagian penghasilan pegawai (gaji pegawai) untuk disimpan di bank sebagai
pinjaman pemerintah dalam waktu tertentu.
3.
Kebijakan Nonmoneter
Kebijakan
nonmoneter, di antaranya:
a.
Meningkatkan produksi
Ditempuh dengan
jalan meningkatkan kapasitas produksi mesin-mesin, pemberian subsidi / bantuan
kepada perusahaan tertentu yang produknya sangat peka terhadap inflasi, seperti
kebutuhan primer serta dengan jalan menambah jam kerja para buruh (pekerja).
Penambahan jam kerja harus sesuai dengan kebutuhan
perusahaan. Jika produksi meningkat, inflasi tidak akan
terjadi karena adanya kemampuan perekonomian negara.
b.
Kebijakan upah
Inflasi dapat
diatasi dengan menurunkan pendapatan siap dibelanjakan masyarakat. Penurunan
ini dapat dilakukan melalui pajak penghasilan.
c.
Kebijakan penentuan
harga
Pemerintah dalam
hal ini secara langsung terjun melakukan operasi pasar untuk mengendalikan
harga. Hal tersebut dilakukan supaya terdapat kestabilan harga.
BAB III
OPINI
Inflasi dan
pengangguran sebuah masalah yang tak dapat dihindari. Setiap negara pasti akan
mengalami yang namanya inflasi dan pengangguran termasuk juga Indonesia.
Inflasi merupakan suatu proses kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok.
Inflasi merupakan salah satu faktor yang dapat dijadikan tolak ukur keadaan
perekonomian dan keadaan pengangguran dalam suatu negara.
Indonesia merupakan Negara
berkembang yang perekonomiannya masih terpengaruh oleh perekonomian luar
negeri. Hal itulah yang menjadi salah satu penyebab terjadinya inflasi di
Indonesia. Sebenarnya dengan inflasi yang tinggi tingkat pengangguran dalam
suatu negara semakin kecil. Akan tetapi bila itu terus di biarkan perekonomian
dalam negara tersebut akan mengalami kemunduran. Sangat sulit bagi pemerintah
untuk menentukan atau memilih salah satu antara menanggulangi inflasi atau
pengangguran. Karena jika salah satunya misalkan saja pemerintah ingin
menanggulangi inflasi maka pemerintah harus rela tingkat pengangguran di negaranya
meningkat begitu juga sebaliknya.
Dalam
makalah ini pengaruh inflasi terhadap pengangguran sangat signifikan sesuai
dengan tabel 2.1 yang dijelaskan sebelumnya meskipun dalam salah satu tahunnya
inflasi tidak begitu mempengaruhi terhadap pengangguran disebabkan oleh faktor
lain penyebab terjadinya pengangguran.
Untuk
menanggulangi inflasi ini pemerintah dapat mengambil kebijakan moneter,
kebijakan fiskal, dan kebijakan non moneter. Selain itu pemerintah juga harus
mengimbangi antara lapangan pekerjaan dengan tingkat pengangguran yang ada agar
inflasi dan pengangguran dapat seimbang.
BAB IV
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
Berdasarkan
dari pembahasan sebelumnya dapat ditarik kesimpulan bahwa inflasi mempunyai
keterkaitan terhadap pengangguran. Tingkat pengangguran yang rendah akan
menimbulkan masalah inflasi, sebaliknya bila tingkat pengangguran tinggi
tingkat inflasinya rendah. Tetapi hal itu tidak selalu terjadi. Pada tahun 2005
tingkat inflasi di Indonesia meningkat menjadi 17,11% sedangkan tingkat
pengangguran juga meningkat menjadi 10,26%. Hal itu disebabkan oleh beberapa
faktor yang mempengaruhi pengangguran. Salah satunya adalah pengurangan subsidi
BBM pada tahun 2005 sehingga menimbulkan kenaikan harga dan melemahkan daya
beli masyarakat. Daya beli masyarakat yang rendah berakibat pada lemahnya
investasi, dan akhirnya berdampak pada menambahnya pengangguran karena tidak
adanya kesempatan kerja.
Inflasi dapat dicegah atau dikendalikan dengan menggunakan
kebijakan moneter, kebijakan fiskal, dan kebijakan Non moneter. Macam-macam
kebijakan moneter, diantaranya ; a. Politika diskonto (disconto policy), b.
Politik pasar terbuka (open market policy), dan c. Politik persediaan kas (cash
reserve ratio policy). Pengendalian laju inflasi melalui kebijakan fiskal dapat
ditempuh melalui langkah-langkah berikut ; a. Penurunan pengeluaran pemerintah,
b. Peningkatan tarif pajak, c. Mengadakan pinjaman pemerintah atau tabungan
paksa. Sedangkan, Kebijakan Nonmoneter di antaranya: a. Meningkatkan produksi,
b. Kebijakan upah, c. Kebijakan penentuan harga.
4.2 Saran
Beberapa saran yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah
sebagai berikut :
a.
Pemerintah sebaiknya
segera meningkatkan daya beli masyarakat melalui peningkatan bantuan langsung
tunai, sebagai dampak dari pengurangan subsidi BBM.
b.
Pemerintah sebaiknya
menetapkan ulang kebijakan pajaknya. Dengan lemahnya daya beli masyarakat dan
pajak yang tinggi, maka semakin memperlemah kemampuan masyarakat untuk belanja.
Begitu juga dengan pengusaha, dengan pendapatan yang sedikit akibat rendahnya
daya beli masyarakat, mereka harus membayar pajak yang tinggi pula.
DAFTAR
PUSTAKA
Alghofari, Farid. Analisis Tingkat Pengangguran di Indonesia Tahun 1980-2007.
Semarang : Universitas Diponegoro.
Amannuddin, Minggus. 2007. Analisis Pengaruh Tingkat
Pekerja, Pertumbuhan Ekonomi dan Tingkat Upah Terhadap Pengangguran di
Indonesia Periode 1989-2005. Yogyakarta : Universitas Islam Indonesia.
Anonimous. 2011. Inflasi. http://klikbelajar.com/pelajaran-sekolah/inflasi/
diakses pada tanggal 30 Desember 2011.
Badan Pusat Statistik. Inflasi dan Pengangguran. http://www.bps.go.id
diakses pada tanggal 24 November 2011.
Boediono. 1991. Ekonomi Mikro. Yogyakarta: BPFE- UGM.
Ikasari, Hertiana.
2005. Determinan Inflasi (Pendekatan Klasik). Semarang : Universitas
Diponegoro. http://eprints.undip.ac.id/15625/1/Hertiana_Ikasari.pdf
diakses pada tanggal 24 November 2011.
Lestyowati, Jamila. 2009. Analisis
Pengaruh Belanja Pegawai Pemerintah, Investasi, dan Jumlah Uang Beredar
Terhadap Inflasi di Indonesia. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/7191/1/09E00286.pdf
diakses pada tanggal 16 Desember 2011.
Sadono Sukirno. 1994. Pengantar Teori Ekonomi.
Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar